Smoking – How Massive Has It Affected Your (Financial) Life

// December 9th, 2009 // Random Stuff

his and hers

his and hers

Beberapa waktu lalu, saya dan suami melakukan perhitungan kasar terkait rupiah yang kami habiskan untuk membeli kandungan zat yang meracuni tubuh, which is ROKOK. Kami masing-masing menghabiskan rata-rata 1 bungkus rokok per hari. Per bungkusnya seharga Rp. 10.000, jadi setelah dikalkulasi, kami menghabiskan Rp. 600.000 per bulan, berarti Rp. 7.200.000 dalam setahun. Wow, that’s a big number. Bisa buat beli I-phone tuh :D .

Selama ini, saya sendiri belum pernah kepikiran untuk berhenti merokok dengan alasan kesehatan, mengingat sejauh ini belum (dan jangan sampe deh) punya keluhan sakit yang diperkirakan akibat merokok. Tapi setelah lihat angka 7 juta, langsung mendadak sakit (hiperbolik!!!).

Membayangkan uang sebanyak itu mengakhiri hidupnya di asbak (dan bersarang di paru-paru) rasanya seperti membiarkan nasi gosong tanpa berusaha segera mengangkat pancinya (hmm, analogi yang aneh).

On the other side, berhenti merokok memang bukan perkara mudah, setidaknya bagi saya. Banyak mantan perokok melontarkan line-motivation andalan mereka, “yang penting itu niat”. Ah, niat sih niat, tapi kalo godaannya kuat, ya kalah juga. Just like Oscar Wilde said, “I can resist everything except temptation”.

Justru menurut saya, yang paling susah itu bukan “berhenti”nya, tapi merubah kebiasaan, itu yang perlu proses. Bangun tidur, langsung nyari minuman manis (bukannya minum air putih kek), terus nyamber rokok. Habis makan, jelas, saat paling nikmat untuk merokok. Mau kerjaan lagi numpuk atau lagi engga ada kerjaan, sama aja, rokok habis sebungkus sehari. Gimana mau nabung beli rumah kalo gini terus.

Meskipun sampai detik ini saya masih berstatus perokok, at least dengan adanya gambaran pengeluaran tahunan sebanyak itu hanya untuk memenuhi keinginan biologis dan psikologis untuk merokok, bisa jadi satu bentuk motivator untuk, well, you know, just quit.

Kelak, kalau sudah punya punya simpanan berlebih kan jadi bisa punya anggaran khusus buat beli rokok, muahaha… Oh no, that’s even worse. Hey, don’t forget, aspek kesehatan juga sudah seharusnya diperhatikan. Bahkan, there’s no compromise when it comes to health.

Terlebih lagi, saya dan suami belum punya asuransi kesehatan, it kinda freak me out kalo membayangkan tiba-tiba terserang penyakit parah meskipun setelah beberapa kali check-up tidak ada hasil yang mencurigakan. You never know, right? Jadi ingat film John Q, starred by Denzel Washington, menceritakan tentang kebobrokan sistem mulai dari perusahaan asuransi, rumah sakit, kepolisian dan institusi negara lainnya, yang mungkin tidak akan dirasakan dampaknya oleh orang-orang berduit, tapi ketika menimpa orang-orang dengan tingkat perekonomian menengah kebawah, akan menjadi perjuangan tanpa akhir bagi mereka untuk bisa bertahan hidup.

John Q

Well, anyway…

Mulai saat ini saya (berusaha ;p) janji pada diri sendiri untuk memulai proses merubah kebiasaan buruk dan pola hidup tidak teratur, dengan salah satu goal yaitu berhenti merokok. Hopefully it’s gonna work out dan semoga saya juga bisa memberi pengaruh positif terhadap suami saya, yang notabene punya kebiasaan lebih buruk ketimbang saya :D . In fact, saya punya banyak cerita tentang itu, i’ll tell you later. Ok then, wish me luck..!!!

Share and Enjoy:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • del.icio.us
  • RSS
  • PDF

Leave a Reply